Ngobrol Bersama A. Fuadi

Ngobrol Bersama A. Fuadi

ahmadfuadi

Redaksi Falcon Publishing berkesempatan bertemu dengan A. Fuadi, penulis mega best seller. Kami mengobrol banyak dengan beliau mengenai kesibukan dan tentu saja tentang buku terbarunya, Anak Rantau. Berikut obrolan lengkapnya.

 

Redaksi (R): Apa kabar Mas?

Fuadi (F): Kabar baik. Rasanya senang karena naskah novel terbaru saya, Anak Rantau, sudah selesai dan menuju ke percetakan.

 

R: Sebagai seorang penulis best seller, apakah arti menulis buat Mas Fuadi?

F: Menulis bagi saya adalah cara paling mudah berbagi manfaat untuk banyak orang. Dengan tulisan kita bisa hadir di dalam hati dan kepala pembaca. Kalau yang kita tuliskan adalah kebaikan, semoga kebaikan ini merasuk ke dalam diri pembaca dan bisa tersebar ke segala penjuru. Menulis juga adalah perjalanan jauh ke dalam lubuk hati, sebuah upaya menemukan diri sejati.

 

R: Andai Mas Fuadi seorang Superman dan menulis adalah kekuatan super, kira-kira apa yang akan menjadi kyrptonite-nya (kelemahan)?

F: Sosial media hahaha. Membuat menulis terhenti, lamban dan tidak fokus.

 

R: Selama menulis, apakah Mas Fuadi berusaha mencoba menulis apa adanya saja atau menuliskan sesuatu yang kira-kira memang pembaca inginkan?

F: Di proses awal biasanya menulis apa adanya dari hati. Dalam proses penyuntingan kadang terpikir apa yang diinginkan oleh pembaca. Hasil akhir adalah tetap mayoritas apa adanya, tapi kadang-kadang dengan mempertimbangkan cara penyampaian sehingga bisa dibaca lebih banyak orang.

 

R: Sebagai penulis yang sudah amat dikenal di dunia literasi, tentunya banyak sekali orang-orang/ penulis lain yang Mas Fuadi temui dalam berbagai kesempatan. Bagaimana keberadaan mereka memengaruhi Mas Fuadi?

F: Penulis lain adalah kawan berjalan, dan juga guru. Saya kerap diinspirasi oleh karya mereka, langkah mereka, sehingga terbit keinginan untuk membuat tulisan yang semakin baik. Tidak jarang mereka menjadi teman diskusi untuk naskah saya. Baru-baru ini bahkan kami, para penulis, bersatu dalam sebuah organisasi bernama Satupena, untuk saling bersinergi dan mendukung.

 

R:Saat ini apakah masih ada naskah yang sedang dikerjakan atau mungkin sudah sempat ditulis tapi tak kunjung usai dan akhirnya disimpan terlebih dahulu?

F: Di laptop saya ada beberapa ide buku yang siap dikerjakan. Ada novel dan bahkan buku anak. Kadang kala memang ada masa menyemai ide di dalam kepala dan belum jadi cerita sampai kemudian ide menjadi matang. Novel saya yang terbaru Anak Rantau ini misalnya perlu waktu beberapa tahun untuk kemudian menjadi novel.

 

R: Menurut Mas Fuadi tolok ukur suksesnya penulis itu apa?

F: Tergantung niat awal menulis. Kalau niat untuk menyebarkan ide dan kebaikan, maka ketika karya itu dibaca satu orang saja, lalu ide itu berbiak di kepala pembaca tersebut, walau hanya satu orang saja, sebetulnya sudah sebuah keberhasilan. Apalagi kalau best seller, tentu sebuah keberhasilan besar. Apalagi kalau alih media, seperti menjadi film. Kepuasan ketika sebuah tulisan menggerakkan orang, mengubah cara berpikir, dan membesarkan hati orang itu adalah sebuah capaian yang tidak ternilai. Sampai sekarang saya masih kerap dapat email konsultasi dari mahasiswa yang bikin skripsi dan tesis tentang novel saya. Ketika novel masuk ke ranah akademis dan dibahas secara akademis, bagi saya sebuah pencapaian yang menyenangkan.

 

R: Apakah Mas Fuadi membaca review-review buku Mas? Bagaimana menanggapi review tersebut?

F: Iya, saya membaca banyak review para pembaca. Sebagai penulis, saya mendapat manfaat dari review ini, khususnya yang berisi kritik dan review buruk. Ini tempat belajar saya, tempat saya mengetahui apa saja yang dinilai pembaca kurang, sehingga saya bisa belajar dan memperbaiki diri. Tentu tidak gampang membaca kritik keras untuk karya kita, tapi bagian dari seni menulis adalah seni melunakkan ego. Begitu karya terbit, buku itu terbang lepas kemana saja, dan setiap orang boleh menilai sesukanya. Tergantung bagaimana saya sebagai menulis menyikapi kritik baik dan buruk itu. Saya memilih kritik sebagai sarana pembelajaran.

 

R: Tentang proses kreatif Mas, adegan seperti apa yang amat sulit untuk dituliskan?

F: Menulis adegan biasa yang tidak banyak emosinya, tapi tetap terlihat menarik. Kalau menulis adegan yang sudah penuh emosi, relatif lebih mudah.

 

R: Apakah Mas Fuadi percaya adanya writer’s block? Kenapa?

F: Writer’s block menurut saya terjadi kita lagi kurang bahan dan kurang niat hehe. Kalau lagi macet menulis, maka saya melakukan riset tambahan dan memperkuat lagi niat menulis. Kalau ketemu niat kuat dan bahan yang bagus dan menggetarkan kita, maka menulis umumnya lancar.

 

R: Andai bisa kembali ke masa sebelum menjadi penulis, sebelum mengirimkan naskah ke penerbit, apa yang ingin Mas katakan kepada diri sendiri pada masa itu?

F: “Kenapa baru menulis buku sekarang sih?”

 

R: Apakah ada rencana menuliskan kelanjutan Anak Rantau, mungkin menjadi serial baru?

F: Novel Anak Rantau mempunyai akhir yang tidak sepenuhnya selesai. Kita lihat apakah karakter utamanya, Hepi, minta hidupnya diceritakan lebih panjang di buku yang lain.

 

R: Wah, pasti akan sangat dinantikan oleh para pembaca. Sekian obrolan kita. Terima kasih atas waktunya, Mas Fuadi.

F: Sama-sama.

 

Penasaran dengan novel Anak Rantau?

Buku ini sudah bisa kamu dapatkan di toko buku online kesayangan Anda.[]

cover-final-anakrantau

One Comment on “Ngobrol Bersama A. Fuadi

  1. Judulnya tidak semagis kakaknya, serial N5M. Tetapi AR bisa jadi lebih kalem dan meresapi pembaca seperti air: masuk jauuuh ke dalam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>