Media Sosial dan Kesepian

Media Sosial dan Kesepian

Kesepian

Oleh Adrindia Ryandisza (Penulis Menemani Setiap Detik Rasa Sepi)

Semakin maju teknologi, semakin memudahkan orang-orang untuk bersosial. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang-orang. Tidak berhubungan dengan manusia lain akan menyebabkan perasaan kesepian.

Yang jauh terasa dekat. Jangan sampai malah membuat yang dekat menjadi jauh. Terutama dengan adanya media sosial. Satu orang mudah terhubung dengan orang lainnya. Mengobrol tidak lagi dibatasi dengan perangko atau argo wartel. Sayangnya kemudahan ini sudah mulai menemukan maksud lain, entah sejak kapan. Media sosial berubah dari media sosialisasi menjadi media pencitraan.

Bahkan, kita menganggap kehidupan nyata adalah kehidupan di media sosial. Kerap kali media sosial dijadikan ajang untuk memamerkan kehidupan. Karena seseorang ingin diakui dan membuat impresi kuat terhadap orang lain.

Followers yang berjibun mungkin bisa dijadikan kebanggaan ataupun kepuasan tersendiri, tetapi tidak bisa menutup rasa sepi. Rasa kesepian lumrah terjadi jika seseorang merasa kebutuhan kehidupan sosialnya tidak lengkap. Komentar-komentar positif maupun negatif yang didapatkan dari media sosial tidak bisa dijadikan kepuasan untuk bersosialisasi.

Untuk mengatasi rasa kesepian, kita memerlukan kualitas interaksi, bukan hanya kuantitas. Tidak peduli berapa followers jika kualitas hubungannya rendah, perasaan sepi akan menyergap. Bahkan, di tengah keramaian, seseorang bisa merasakan kesepian. Celakanya, kesepian tidak bisa dianggap remeh karena bisa menyebabkan orang menjadi negatif dan depresi, bahkan, jika sudah parah, memiliki tendensi untuk bunuh diri.

Bukan berarti aktif di media sosial hal yang salah. Hanya saja dibutuhkan prioritas agar kepuasan dalam bersosialisasi terpenuhi. Hal itu akan membantu mengurangi rasa kesepian. Perlu diingat bahwa berinteraksi langsung dengan orang lain dan memiliki ikatan yang berkualitas itu sangat penting. Kehidupan media sosial dan kehidupan nyata harus memiliki porsi yang seimbang demi kebaikan diri sendiri sebagai makhluk sosial. Selain kualitas interkasi dengan orang lain, rasa kesepian dapat diatasi dengan menjalani hobi, menelusuri bakat, dan minat agar jauh lebih produktif.[]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>